Blog Bisnis Dan Pekerja

Transformasi Mental Perilaku Usaha

rumah tipe-45Mendengar istilah bisnis properti kemungkinan yang terbayang adalah bisnis dengan modal besar, beresiko tinggi, dan hal-hal menakutkan lainnya. Meskipun diakui menjanjikan keuntungan besar, tapi tidak setiap orang berani menerjuninya. Apakah memang demikian sulit ? Simak uraian berikut.

Sebenarnya bisnis properti bisa dimulai dari hal-hal yang kecil. Menjadi broker misalnya. Keuntungannya memang tidak seberapa, tapi lebih mungkin dilakukan. Atau bisa juga dengan membuat usaha kos kecil-kecilan dengan memanfaatkan rumah/kamar tidak terpakai. Itu semua juga sudah disebut bisnis properti.

Nah, yang akan saya tuliskan ini sedikit lebih menantang, yaitu menjadi developer / pengembang perumahan dalam skala kecil. Empat, lima, enam rumah rasanya sudah cukup bagus untuk memulai. Bahkan satu rumah pun bisa menjadi sarana belajar yang bagus untuk kelak menjadi developer kelas wahid. continue reading…

indikator bisnisHuebat…bisnis si Panjul berkembang pesat ! Tidak seperti usaha yang dimiliki si Pitak, dari dulu jalan di tempat. Coba lihat saja, sudah berapa banyak mobil yang dimiliki Panjul. Lima ekor, bro ! Padahal setahun yang lalu saya tahu dia cuma punya satu, itu pun hasil kreditan.

Begitulah cara paling mudah menilai kemajuan suatu bisnis yang sering kita dengar di masyarakat. Apakah dengan demikian benar bahwa bisnis si Panjul maju pesat ? Bisa ya bisa tidak ! Fakta bertambahnya mobil si Panjul bukanlah indikator bisnis yang bisa dipercaya. Kalau mobil itu dibeli dari harta warisan, jelas tidak berhubungan dengan bisnisnya.

Jadi apa donk yang paling pas buat menilai perkembangan suatu bisnis ? Yang paling meyakinkan menurut saya ya data yang tersedia di laporan keuangan. Makanya setiap unit bisnis resmi selalu dituntut adanya laporan keuangan. continue reading…

Bisnis apa pun, baik online maupun konvensional, tentunya memiliki dukungan infrastruktur yang membuat bisnis mampu berjalan. Dukungan ini harus diperkuat pada saat kita ingin meningkatkan dan menajamkan bisnis kita. Untuk bisnis melalui blog, apa saja yang harus diperhatikan ?

Setidaknya ada tiga point penting yang harus diperhatikan. Pertama, blog sebagai tempat beraktifitas bisnis. Disini pengelola harus memiliki kemampuan dalam teknik blogging. Dengan kemampuan tersebut blognya akan kelihatan menarik dan memberikan banyak kemudahan bagi pengunjung blog dalam memperoleh layanan. Yang diharapkan tentunya pengunjung betah melihat-lihat dan akhirnya tertarik membeli.

Kedua, sistem bisnis. Sesederhana apa pun suatu bisnis tentunya memiliki sistem yang membuat produk atau jasa yang ditawarkan dapat sampai ke tangan peminatnya. Dari mulai penyediaannya, penawarannya, hingga delivery nya. Diperlukan kiat-kiat yang ampuh agar bisnis mampu menghasilkan keuntungan. continue reading…

Dalam tulisannya kemarin tentang beda pandangan kuadaran E dan B, saya menangkap ada nada gusar bos VCC Indonesia tersebut. Kalau saya simpulkan, kegusaran tersebut berpangkal kepada cara berpikir dan cara merespons orang terhadap suatu peluang. Hal itu menimbulkan ide saya untuk menuliskan artikel ini.

Di blog ini, atau di blog gratisan saya, saat saya menulis topik pekerja sering saya jumpai muncul komentar yang menyatakan kalau yang bersangkutan bukan pekerja. Dia menyatakan diri sebagai pebisnis atau sedang memulai bisnis. Okey, saya salut dan hormat dengan tekad tersebut.

Namun beberapa kadang bernada amat alergi dengan kata pekerja. Padahal tidak ada yang buruk dengan status pekerja, even di lingkungan para pebisnis. Kalau anda baca postingan mas Triwahyudi beberapa hari yang lalu, atau Mashengky Kamis kemarin, anda akan melihat adanya sisi positif dalam bekerja. continue reading…

Ini cerita tentang salah satu paman saya, Lik No yang berprofesi sebagai pengrajin tas sekolah. Bertahun-tahun dia menekuni usaha tersebut bersama istrinya tanpa seorang pekerja pun membantunya. Maklum ordernya juga tidak terlalu besar. Cukuplah sekedar untuk mencukupi kebutuhan hidupnya yang sederhana.

Belakangan kelihatannya usaha Lik No mulai berkembang. Perlahan order meningkat. Datangnya bukan hanya dari kios-kios kecil, tapi toko-toko besar mulai order kepadanya. Jelas Lik No suami istri kewalahan memenuhinya.

Mulailah Lik No berpikir untuk mempekerjakan orang untuk membantu peningkatan omzetnya. Tidak sulit untuk mencari tenaga penjahit di kampungnya. Meskipun pengalaman mereka masih  minim, tapi Lik No sanggup membinanya agar trampil. continue reading…