Blog Bisnis Dan Pekerja

Transformasi Mental Perilaku Usaha

Jika anda ditanya, lebih suka naik gaji atau naik pangkat, apa jawaban anda ? Beberapa kawan secara berseloroh menjawab, “ Naik gaji, dong ! Saya enggak perlu naik pangkat asalkan gaji saya naik terus ! Ujung-ujungnya ‘kan yang penting duit.” Betulkah naik pangkat sebenarnya tidak terlalu perlu apabila gaji bisa naik terus ?

Fakta yang terjadi adalah bahwa saat seseorang naik pangkat hampir pasti dia juga naik gaji. Hal ini karena pangkat atau jabatan yang lebih tinggi biasanya menuntut tugas dan tanggung jawab yang lebih berat. Dengan demikian sewajarnya bila peraturan yang dibuat menyeimbangkan hak yang diperoleh dengan tugas dan tanggung jawab yang diembannya.

Namun seseorang yang naik gaji belum tentu naik pangkat. Hal ini biasanya terjadi pada perusahaan yang menerapkan kenaikan gaji berkala. Bisa juga terjadi dalam bentuk kenaikan gaji secara masal terhadap seluruh karyawan karena perusahaan mengalami kemajuan pesat atau untuk mempertahankan manfaatnya bagi karyawan. continue reading…

Membangun bisnis bisa menjadi kosakata yang menyeramkan bagi sebagian orang, apalagi bila disertai kata kerja keras di dalamnya. Terbayang kerja keras dalam mencari modal bisnis, memasarkan produk, menanggulangi resiko, dan sebagainya. Sesuai janji saya saat membahas artikel tentang Cerita Pengusaha Sukses, kali ini saya akan mengkhususkan pembahasan tentang kerja keras.

Kalau saya bilang kerja keras, maka artinya adalah kerja keras yang sesungguhnya. Bukan sekedar membayangkan, tapi betul-betul action untuk kerja keras. Mengenai mindset, mental spiritual, dan sejenisnya yang agak mengawang-awang tidak akan saya bahas disini, karena sudah saya tulis sekilas di Aji Mumpung. Pemahaman tentang itu akan lebih utuh setelah anda terjun di dalamnya nanti. Jadi untuk kali ini mendingan bicara yang nyata saja ya !

Kerja keras apa saja tuh ? Ada 4 kerja keras yang penting. Silakan simak satu persatu !

Kerja keras untuk belajar.

Orang bilang tiap hari peluang berseliweran di hadapan kita. Tapi kok enggak kelihatan ya? Oh, itu karena kurang belajar jek ! Eit, nanti dulu ! Ini ada peluang datang. Waduh sayang, terlalu banyak hal yang enggak dipahami. Abaikan saja deh, itu bukan peluang buat saya ! Lho, kenapa begitu ? Karena kurang belajar, bang ! continue reading…

Inilah yang diceritakan oleh Donald Trump, pengusaha sukses kelas dunia di bidang real estat tentang faktor-faktor yang membawa kesuksesan seseorang. Adanya faktor bakat dan keberuntungan yang ikut berperan menentukan seorang pengusaha sukses atau tidak, sesuatu yang menarik perhatian saya. Mari kita analisa sejenak cerita pengusaha sukses yang sudah membuktikan ketangguhannya mengelola bisnis real estat ini.

Sekilas tentang pengusaha sukses yang satu ini, saya agak sering menyaksikan penampilannya saat penayangan acara The Apprentice di layar kaca beberapa tahun lalu. Acara yang bagi saya amat menarik, memperlihatkan bagaimana para kandidat anak asuh Donald Trump ini bersaing menunjukkan kreatifitasnya di dalam mengelola peluang bisnis dan menangani permasalahan-permasalahan bisnis. Kebijaksanaan seorang Donald Trump, si pengusaha sukses, terlihat saat mengevaluasi hasil aksi para calon anak asuhnya.

Kembali kepada faktor bakat, kerja, dan keberuntungan sebagai penentu sukses seseorang. Sebenarnya yang perlu dilakukan sebagai langkah awal hanyalah bertanya kepada diri masing-masing. Ada dua pertanyaan. Pertama : apakah saya memiliki bakat bisnis ? Kedua : apakah saya termasuk orang yang akan mendapatkan keberuntungan dalam bisnis ? continue reading…

Selain naik pangkat, kosa kata lain yang juga lekat dengan dunia pekerja adalah THR (Tunjangan Hari Raya) dan mudik. THR dan Mudik akan menjadi kosakata populer pada saat menjelang hari raya Idul Fitri. Menjadi penghias beragam cerita yang ditayangkan media, kadang cerita gembira kadang cerita memprihatinkan.

Ceritanya akan mengundang kegembiraan bila berupa pengumuman pihak manajemen bahwa THR akan dibayarkan tanggal sekian sebesar sekian kali gaji misalnya. Atau ada perusahaan yang menyelenggarakan mudik gratis buat para karyawannya. Tapi sebaliknya akan menjadi cerita memprihatinkan bila terdengar berita bahwa perusahaan karena sesuatu dan lain hal tidak bisa membayar THR para karyawannya. Rencana mudik pun bisa berantakan akhirnya.

Jika dipikir lebih jauh, kebutuhan dana untuk berlebaran dan mudik sebenarnya sudah merupakan kebutuhan rutin tiap tahun. Selayaknya suatu kebutuhan rutin, semestinya tiap pekerja sudah menganggarkan dari penghasilan rutinnya. Tapi itu teori, pada kenyataannya pekerja selalu saja amat membutuhkan yang namanya THR. continue reading…

Istilah aji mumpung umumnya berkonotasi negatif. Coba saja perhatikan bila ada pejabat yang dikatakan menerapkan aji mumpung. Pastilah condong ke pengertian penyalahgunaan kewenangan untuk kepentingan pribadi. Begitu juga perilaku orang yang berbuat sewenang-wenang ketika berkuasa juga dikatakan menggunakan aji mumpung. Mumpung berkuasa.

Bagaimana aji mumpung dalam bisnis ? Apakah sama negatifnya ?

Untuk menjawabnya mari kita berandai-andai. Andaikan mendadak saja karena sesuatu hal bisnis anda mendapat peluang untuk dikembangkan sangat besar jauh melampaui kondisinya kini. Jika sebelumnya bisnis anda cukup dijalankan bersama istri atau seorang teman misalnya, nantinya harus ditangani ratusan pekerja. Otomatis modal yang saat ini cuma mengandalkan dana sendiri juga harus ditingkatkan berlipat ganda.

Anda tidak tahu apakah kondisi ini akan berlangsung seterusnya atau hanya beberapa tahun saja. Kira-kira apa yang akan anda lakukan ? Apakah menangkap seluruh peluang menggunakan aji mumpung ? Atau anda hanya akan meningkatkan sebatas kemampuan yang ada saja sambil pelan-pelan ditingkatkan sedikit demi sedikit ? continue reading…