<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Bisnis Dan Pekerja</title>
	<atom:link href="http://www.suarakelana.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.suarakelana.com</link>
	<description>Transformasi Mental Perilaku Usaha</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Nov 2010 16:20:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Gagal Dan Rugi Dalam Bisnis</title>
		<link>http://www.suarakelana.com/2010/11/09/gagal-dan-rugi-dalam-bisnis/</link>
		<comments>http://www.suarakelana.com/2010/11/09/gagal-dan-rugi-dalam-bisnis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 15:56:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suarakelana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis merugi]]></category>
		<category><![CDATA[resiko bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[resiko gagal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.suarakelana.com/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Cukup banyak kawan yang menanyakan apakah  pernah gagal atau rugi dalam bisnis yang saya jalankan.  Jawabannya mudah ditebak. Saya beberapa kali gagal dalam bisnis, dan saya juga beberapa kali menderita kerugian yang lumayan besar. Dan satu hal lagi yang mudah ditebak, yang bertanya pastilah bukan dari kalangan pebisnis. Kalau pun pebisnis, pastinya baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font style="color: black; font-size: 14px;">Cukup banyak kawan yang menanyakan apakah  pernah <strong>gagal atau rugi dalam bisnis</strong> yang saya jalankan.  Jawabannya mudah ditebak. Saya beberapa kali <strong>gagal dalam bisnis</strong>, dan saya juga beberapa kali menderita <strong>kerugian</strong> yang lumayan besar. Dan satu hal lagi yang mudah ditebak, yang bertanya pastilah bukan dari kalangan pebisnis. Kalau pun pebisnis, pastinya baru akan memulai berbisnis. </p>
<p>Sobat sekalian, setelah seminggu lebih vakum dari dunia blogging akibat terkena dampak <a href="http://www.suarakelana.com/2010/10/31/cuaca-ekstrim/">cuaca ekstrim</a>, kali ini saya akan menulis sedikit tentang topik yang kurang disukai orang. Yaitu tentang kegagalan dan atau kerugian dalam bisnis. Saya katakan kurang disukai karena umumnya orang lebih tertarik mendengar tentang kesuksesan. Wajar saja !</p>
<p>Nah, kalau pertanyaan di atas umumnya datang bukan dari kalangan pebisnis, hal itu karena seorang pebisnis tahu betul bahwa gagal atau rugi dalam bisnis adalah hal yang biasa. Bagian dari resiko berkecimpung dalam dunia bisnis. Jadi tidak perlu lagi ditanyakan. Setidaknya itu yang tadi sore disampaikan oleh Kang Pepen, yang menggeluti bisnis jasa pembuatan peralatan dari logam.<span id="more-265"></span></p>
<p>Kehadiran Kang Pepen ke rumah saya karena urusan dengan istri saya berkaitan dengan pembuatan <em>autoclave</em> untuk sterilisasi baglog  jamur. Sambil membicarakan pekerjaan yang akan dilakukan, kami sempat ngobrol sekilas tentang perbedaan karyawan dengan pebisnis. Tentunya dari sudut pandang seorang praktisi bisnis kecil-kecilan, bukan pebisnis besar, dan jauh dari aroma akademis.</p>
<p>Menurut Kang Pepen, ada dua perbedaan nyata antara karyawan dan pebisnis. Pertama, dalam hal penghasilan (take home pay). Karyawan memiliki penghasilan yang sudah tetap dan rutin, tidak tergantung hasil pekerjaannya. Sedangkan penghasilan pebisnis tidak menentu, tergantung kinerja bisnis yang dijalankan. Kadang banyak proyek, kadang sepi. Kadang untuk besar, kadang malah merugi.</p>
<p>Kedua, cara pandang terhadap kegagalan atau kerugian. Karyawan umumnya memandang hal tersebut sebagai aib, fatal, sangat menakutkan, bahkan seperti akhir dunia. Hm, setuju saya karena saya sendiri pernah merasakan nuansa tersebut saat memimpin koperasi karyawan dulu. Sedangkan bagi pebisnis, kata Kang Pepen, gagal dalam suatu usaha atau mengalami suatu kerugian bukan merupakan hal aneh.</p>
<p>Seorang pebisnis menyadari betul bahwa dalam setiap langkah bisnisnya selalu mengandung potensi kegagalan atau kerugian. Meskipun sudah melalui analisis njelimet dan perencanaan matang, kemungkinan itu tidak pernah bisa dinolkan. Yang penting, ini menurut Kang Pepen, <strong>jangan berhenti melangkah hanya karena mengalami kegagalan atau kerugian dalam suatu usaha</strong>.</p>
<p>Kang Pepen merasa penting sekali menyampaikan hal yang terakhir ini, khususnya ditujukan kepada istri saya yang sedang akan <a href="http://www.suarakelana.com/2010/10/24/memulai-bisnis-jangan-tunda-lagi/">memulai bisnis</a> baru. Dia mencontohkan beberapa kawannya yang berstatus karyawan, saat memulai usaha dan gagal lalu menjadi kapok dan takut mencoba lagi. “Mereka mah punya gaji, kalau saya gagal dan menjadi takut mencoba lagi, lalu anak-istri saya mau makan apa ?” ujar Kang Pepen sambil tertawa.</p>
<p>Saya sepakat dengan pendapat kang Pepen, bahwa bisnis tidak ubahnya peperangan. Boleh saja kita gagal dalam suatu usaha, boleh saja kita menderita kerugian dalam suatu transaksi bisnis, asalkan bisnis tetap jalan dan secara keseluruhan terus meningkat menuju kesuksesan yang lebih besar. Tidak mengapa kalah dalam suatu pertempuran, asalkan tetap bisa memenangkan peperangan.</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.suarakelana.com/2010/11/09/gagal-dan-rugi-dalam-bisnis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuaca Ekstrim</title>
		<link>http://www.suarakelana.com/2010/10/31/cuaca-ekstrim/</link>
		<comments>http://www.suarakelana.com/2010/10/31/cuaca-ekstrim/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Oct 2010 16:43:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suarakelana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan 200]]></category>
		<category><![CDATA[situasi ekstrim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.suarakelana.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata cuaca ekstrim mampir juga ke Sukabumi. Bukan sekedar mampir, malah sempat memberi kenang-kenangan kepada tubuh saya. Membuat rasa yang juga ekstrim.  Kadang panas, kadang dingin, kadang iseng juga menggelitik tulang. Rada ngilu-ngilu gitu !
Kebetulan dalam kegiatan blogging saya juga sedang saatnya situasi ekstrim nih. Enggak biasa maksudnya, yaitu waktunya update artikel. Huaduh, nulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font style="color: black; font-size: 14px;">Ternyata <strong>cuaca ekstrim</strong> mampir juga ke Sukabumi. Bukan sekedar mampir, malah sempat memberi kenang-kenangan kepada tubuh saya. Membuat rasa yang juga <strong>ekstrim</strong>.  Kadang panas, kadang dingin, kadang iseng juga menggelitik tulang. Rada ngilu-ngilu gitu !</p>
<p>Kebetulan dalam kegiatan blogging saya juga sedang saatnya situasi ekstrim nih. Enggak biasa maksudnya, yaitu waktunya update artikel. Huaduh, nulis apa ya ? Yah, cuaca ekstrim harus dihadapi secara ekstrim juga. Artinya perlu membangkitkan enerji ekstrim agar tetap bisa menulis.</p>
<p>Kalau saya mencoba mengingat hal-hal yang berhubungan dengan cuaca ekstrim ini, mas Fadly menulis dengan gaya yang cukup ekstrim tentang <a href="http://www.fadlymuin.com/kiat-dan-tips/kiat-happy-menghadapi-hujan-dan-kemacetan.html">kiat happy menghadapi hujan dan kemacetan</a>. Kalau dalam lukisan mungkin bisa disebut bergaya surealisme. Agak ngeri saya, khawatir kepala pening ini menelurkan tulisan yang lebih ekstrim lagi. <span id="more-261"></span></p>
<p>Masih pusing mau menulis apa, saya berkunjung ke blognya mas Agus Siswoyo. Disana malah disuguhi “<a href="http://agussiswoyo.com/2010/10/31/lelucon-yang-tidak-pantas/">Lelucon Yang Tidak Pantas</a>”. Jangan salah sangka, itu judul artikel terbarunya. Komentar-komentar seru di dalamnya cukup membangkitkan gairah saya berkomentar. Semoga juga bisa menimbulkan gairah menulis.</p>
<p>Ingin blogwalking lebih lanjut, kepala semakin terasa berat. Ya, sudah ! Menyelesaikan tulisan saja ! Masih ada beberapa menit sebelum hari berganti tanggal. Masak sih enggak bisa update sebelum masuk bulan Nopember ? Bukan karena apa-apa sih, sekedar ingin saja !</p>
<p>Bicara mengenai ekstrim, saya menjadi teringat saran dari salah seorang atasan saya dulu. Beliau mengingatkan saya agar bila menghadapi suatu test tertulis pilihan (multiple choice), pilih jawaban yang ekstrim, jangan yang sedang-sedang saja. Jawaban rata-rata hanya untuk orang rata-rata. Jadi kalau ada skala 1 – 5, jangan pilih angka 3, tapi upayakan bisa memilih angka 1 atau 5.</p>
<p>Ternyata saran tersebut memiliki implikasi luas dalam kehidupan yang sesungguhnya.  Saya kira sobat semua paham betul apa yang saya maksud. Jadi tidak perlu saya uraikan lebih lanjut. Paling tidak untuk saat ini, di situasi yang agak ekstrim ini.</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.suarakelana.com/2010/10/31/cuaca-ekstrim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memulai Bisnis : Jangan Tunda Lagi !</title>
		<link>http://www.suarakelana.com/2010/10/24/memulai-bisnis-jangan-tunda-lagi/</link>
		<comments>http://www.suarakelana.com/2010/10/24/memulai-bisnis-jangan-tunda-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Oct 2010 08:07:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suarakelana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis jamur tiram]]></category>
		<category><![CDATA[cara memulai bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[memulai usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.suarakelana.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Keraguan memulai bisnis atau usaha sering menghinggapi banyak orang. Meskipun sudah banyak buku motivasi bisnis dibaca, puluhan seminar diikuti, tidak menjamin seseorang berani memulai bisnis.  Seakan-akan memulai bisnis merupakan sesuatu yang amat sakral sehingga perlu persiapan yang sangat sempurna.
Hajar bleh ! Hehehe&#8230;.. Ungkapan juragan VCC Indonesia ini terkesan santai tapi lumayan kadar memaksanya. Tujuannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.suarakelana.com/wp-content/uploads/2010/10/JV-Jamur-Tiram.jpg" alt="Kumbung Jamur Tiram" title="JV Jamur Tiram" width="300" height="200" class="alignleft size-full wp-image-254" /><font style="color: black; font-size: 14px;">Keraguan <strong>memulai bisnis</strong> atau usaha sering menghinggapi banyak orang. Meskipun sudah banyak buku motivasi bisnis dibaca, puluhan seminar diikuti, tidak menjamin seseorang berani <strong>memulai bisnis</strong>.  Seakan-akan memulai bisnis merupakan sesuatu yang amat sakral sehingga perlu persiapan yang sangat sempurna.</p>
<p><a href="http://mashengky.com/bisnis/hajar-bleh.html">Hajar bleh !</a> Hehehe&#8230;.. Ungkapan juragan VCC Indonesia ini terkesan santai tapi lumayan kadar memaksanya. Tujuannya apalagi kalau bukan agar kita tidak ragu-ragu dalam mengambil tindakan. Saya punya cerita sendiri terkait hal ini.</p>
<p>Ceritanya, istri saya sudah lama memendam keinginan untuk terjun ke bisnis jamur. Yang dia inginkan adalah bisnis yang sepenuhnya dia kelola, bukan sekedar kerjasama. Namun setelah  sekian lama, bisnis idamannya itu ternyata tidak juga kunjung dimulai.<span id="more-249"></span></p>
<p>Untuk mendukungnya, sengaja saya awali dengan membuat JV dengan pihak yang menguasai seluk-beluk bidang itu. Tujuannya agar ia memperoleh wawasan tentang hal tersebut dan bisa membuang keraguannya. Setelah sekian bulan berlalu, beberapa point penting untuk pelaksanaan keinginannya sebenarnya sudah didapat. Contoh : </p>
<ul>
<li>Pasar sudah ada. Order rutin per triwulan sudah di tangan untuk digarap sendiri. Kalau mau lebih besar juga tidak sulit mendapatkan pasar.
</li>
</ul>
<ul>
<li>Keterlibatan dalam JV telah menciptakan koneksi-koneksi yang bisa mendukung teknis produksinya, termasuk penyediaan tenaga trampil dan pasokan bahan baku.
</li>
</ul>
<ul>
<li>Untuk lokasi lahan produksi, ada beberapa tawaran dari teman.
</li>
</ul>
<ul>
<li><a href="www.suarakelana.com/2010/06/29/balik-modal-apa-sih-yang-dimaksud-modal-itu/">Modal bisnis</a> sudah saya alokasikan sekedarnya untuk memulai.</li>
</ul>
<p>Dengan kondisi tersebut, ternyata masih saja dirasa belum cukup untuk memulai usahanya sendiri. Hingga akhirnya modal yang sudah dialokasikan pun terpakai buat mendukung proyek saya di Jakarta. Maka makin banyaklah alasan yang dimilikinya untuk menunda.</p>
<p>Anda mau tahu alasan-alasannya ? Ini :</p>
<ul>
<li>Lahan yang ditawari teman terlalu jauh, tidak praktis. Tapi ketika saya sarankan agar memanfaatkan halaman belakang rumah saja untuk sementara, dia menolak. Padahal tokh selama ini juga belum dimanfaatkan secara jelas.
</li>
</ul>
<ul>
<li>Meskipun beberapa pengusaha yang dia kenal telah sukses di bisnis tersebut, ada juga dia dengar yang gagal total. Dia merasa perlu mempelajarinya dulu.
</li>
</ul>
<ul>
<li>Ingin mencari tahu dulu mengenai pengolahan pasca panen. Agar sekalian bisa menggarapnya dari ujung ke ujung jika nanti sudah berjalan.
</li>
</ul>
<ul>
<li>Menunggu pengembalian dana yang saya pakai plus tambahan agar bisa bergerak lebih leluasa.</li>
</ul>
<p>Dan banyak lagi alasan yang remeh-temeh yang kalau dituliskan bisa menghabiskan space saja.</p>
<p><div id="attachment_255" class="wp-caption alignleft" style="width: 237px"><img src="http://www.suarakelana.com/wp-content/uploads/2010/10/kumbung-jamur.jpg" alt="kumbung jamur tiram" title="kumbung jamur" width="227" height="200" class="size-full wp-image-255" /><p class="wp-caption-text">Lokasi JV saat renovasi</p></div>Sikat bleh !<br />
Melihat kondisi tersebut, akhirnya saya kontak seorang kawan untuk mencarikannya pinjaman bank. Sebelum istri saya sempat berpikir kepanjangan, pinjaman atas nama dirinya sudah diajukan. Dengan jaminan colateral dan usaha kos-kosan yang dia miliki akhirnya seminggu kemudian 100 jeti ada ditangannya.<br />
.<br />
Nah, sekarang dia punya kewajiban cicilan tiap bulan yang harus ditanggung. Tiada pilihan baginya kecuali segera memulai dan menjalankan bisnis yang diinginkannya (The Power Of Kepepet). Maka segera saja dia tampak sibuk mengurus segala sesuatunya.<br />
.<br />
Ajaib ! Saya melihat jelas pengaruh dari suatu tindakan atau action pada dirinya. Setelah  dimulai, beberapa keberatan istri saya yang semula amat dipertahankan, ternyata bisa direlakannya. Bisa dia rasakan betapa selama ini banyak hal-hal tidak prinsipil yang menghalangi jalan.</p>
<p>Karena sudah didukung persiapan dan ketersediaan point-point penting di atas, apakah lalu mulus-mulus saja ? Tidak sama sekali ! Tapi disinilah kehebatan suatu tindakan. Langkah yang sudah diambil dengan sendirinya menuntut langkah-langkah berikutnya. Secara otomatis kita diminta terus berpikir dan terus bergerak. </p>
<p>Dan di ujung jalan sana, solusi menunggu orang-orang yang mau berupaya mencarinya. Orang-orang yang bersedia mengambil tindakan, bukan sekedar memikirkan. Orang-orang yang percaya keberadaannya dan tidak mudah menyerah menghadapi kendala.  </p>
<p>Itulah saat ini yang sedang dijalani istri saya dalam <strong>memulai bisnisnya</strong>. Kendala dan permasalahan tidak lagi menghalangi langkahnya. Dia sekarang sadar betul bahwa saudara kembar dari istilah “kendala atau permasalahan” adalah “solusi atau mencari solusi”, bukan “berhenti atau ditinggal pergi”. </font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.suarakelana.com/2010/10/24/memulai-bisnis-jangan-tunda-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Harus Menjadi Bapak Mess Karyawan</title>
		<link>http://www.suarakelana.com/2010/10/17/ketika-harus-menjadi-bapak-mess-karyawan/</link>
		<comments>http://www.suarakelana.com/2010/10/17/ketika-harus-menjadi-bapak-mess-karyawan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Oct 2010 13:16:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Siswoyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pekerja]]></category>
		<category><![CDATA[bapak mess]]></category>
		<category><![CDATA[mess karyawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.suarakelana.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Agus Siswoyo
Sekitar lima tahun lalu saya bergabung dalam perusahaan tempat saat ini bekerja. Dan beruntungnya, saya selalu ditugaskan menjalankan openning cabang baru di luar kota. Bisa Anda bayangkan, seorang pendatang dari desa harus berkelana kemana-mana. Saya sempat stress juga. Tapi itu tidak lama.
.
Nggak tahu atas pertimbangan apa, setelah dua tahun keliling Jawa Timur, akhirnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: <a href="http://agussiswoyo.com/" target="_blank">Agus Siswoyo</a></strong></p>
<p><div id="attachment_246" class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><img src="http://www.suarakelana.com/wp-content/uploads/2010/10/agussiswoyo.jpg" alt="agus siswoyo" title="agussiswoyo" width="100" height="150" class="size-full wp-image-246" /><p class="wp-caption-text">Agus Siswoyo Penulis Tamu</p></div>Sekitar lima tahun lalu saya bergabung dalam perusahaan tempat saat ini bekerja. Dan beruntungnya, saya selalu ditugaskan menjalankan openning cabang baru di luar kota. Bisa Anda bayangkan, seorang pendatang dari desa harus berkelana kemana-mana. Saya sempat stress juga. Tapi itu tidak lama.<br />
.</p>
<p>Nggak tahu atas pertimbangan apa, setelah dua tahun keliling Jawa Timur, akhirnya saya ditempatkan di kantor pusat sebagai Cost Analyst sekaligus diberi tangggungjawab mengelola sebuah tempat tinggal karyawan (mess). Saya sempat tidak percaya diri. Masak seorang ABG imut-imut macam saya harus jadi kepala rumah tangga? Padahal dalam mess itu sendiri terdapat 5 orang yang usianya jauh di atas saya, bahkan sudah berkeluarga.</p>
<p>Rupanya pimpinan perusahaan punya pertimbangan lain. Saya dianggap mampu &#8216;mengendalikan&#8217; aneka karakter karyawan yang berasal dari berbagai latar belakang kehidupan.  Saya pun nggak bisa mengelak dari tanggungjawab ini. Mau tahu gimana rasanya jadi Bapak di usia ABG? Yang pasti puyeng dan harus sering nyebut nama Gusti Allah.<span id="more-237"></span></p>
<h2>Humas Bagi Lingkungan Sekitar</h2>
<p>Seorang Bapak Mess (begitu saya menyebutnya) dalam prakteknya bukan hanya bertindak selaku koordinator aktivitas para penghuni rumah. Lebih dari itu, dia juga berfungsi sebagai penghubung komunikasi antara perusahaan dengan lingkungan masyarakat sekitar. Baik itu dalam konteks hubungan sosial kemasyarakatan ataupun memberikan informasi penting terkini tentang perusahaan.</p>
<p>Sekali waktu seorang Bapak Mess harus meluangkan waktu nongkrong di warkop untuk sekedar menyapa abang-abang becak. Yang diomongkan pun harus mewakili visi dan misi perusahaan. Tapi tentu saja disampaikan dengan bahasa sehari-hari. Jangan berkhayal saya bakalan bahas nomor togel. Itu nggak masuk daftar prioritas.</p>
<p>Di sisi lain, seorang Bapak Mess dituntut bisa bersikap fleksibel terhadap aturan lingkungan tempat tinggal. Misalkan mengenai tarif iuran warga, dana sosial, dana kematian, sumbangan lain-lain bahkan menghadiri rapat RT tiap bulan. Bisa Anda bayangkan bagaimana seorang pemuda seperti saya harus memakai baju batik dan berkumpul dengan Bapak-Bapak yang sebagian sudah beruban.</p>
<p>Sehingga tak jarang saya dituntut untuk bisa menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat yang semakin beraneka ragam latar belakang, tujuan dan motif yang terkandung dibalik sebuah aksi. Misalkan kalau Pak RT bicara gini, saya harus bisa tanggap apa maksudnya. Sedang minta sumbangan dana kah?</p>
<h2>Melatih Kematangan Mental</h2>
<p>Yang paling susah adalah waktu penghuni mess karyawan melakukan tindakan yang menimbulkan keresahan bagi masyarakat sekitar. Misalkan melakukan pesta miras, mengundang teman perempuan (baca: pacar), terlibat tindak kriminal narkoba, tawuran antar geng dan lain-lain.</p>
<p>Dalam kondisi demikian, seorang Bapak Mess wajib memiliki ketegasan dalam bersikap. Untuk saya pribadi, saya berprinsip &#8220;Kamu boleh tinggal disini tapi harus ikuti aturan perusahaan. Jika tidak, silakan cari tempat lain untuk menyalurkan aktifitas pribadimu&#8221;.</p>
<p>Awalnya memang tidak mudah mengatakan hal tersebut. Bisa jadi saya akan menerima ancaman balik secara fisik dan mental. Misalnya waktu bepergian dicegat sekelompok orang di tengah jalan. Tapi alhamdulillah sejauh ini cara tersebut cukup efektif untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.</p>
<p>Apa kuncinya? Lakukan pendekatan pribadi kepada masing-masing penghuni mess. Bila perlu, dampingi mereka saat masalah sulit menghadang. Hal ini bermanfaat dalam menumbuhkan sifat saling pengertian antara perusahaan, karyawan dan masyarakat di lingkungan sekitar. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?</p>
<p>Makin lama saya makin enjoy dengan keadaan ini. Bukan karena berhasil mengatur hidup beberapa orang, tapi lebih kepada sarana pembangun kematangan berpikir dan bersikap di masyarakat. Hal ini tentu tidak akan saya dapatkan jika saya tidak berani memegang amanat menjadi Bapak Mess. Sampai-sampai saya bisa menasehati kawan kerja yang terbiasa &#8216;ngambek&#8217; nggak mau pulang karena berantem sama istrinya.</p>
<p>Hmm, I love my life! Hidup Bapak Mess&#8230;!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.suarakelana.com/2010/10/17/ketika-harus-menjadi-bapak-mess-karyawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>67</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bisnis SMS Premium</title>
		<link>http://www.suarakelana.com/2010/10/10/bisnis-sms-premium/</link>
		<comments>http://www.suarakelana.com/2010/10/10/bisnis-sms-premium/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 14:18:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suarakelana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[sms dukungan]]></category>
		<category><![CDATA[sms kontes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.suarakelana.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Ketik  Klantink, maka akan terlihat tulisan suarakelana berbisik nongkrong di nomor satu pencarian google. Hehe, bukan begitu maksudnya. Yang benar adalah : ketik Klantink, lalu kirim ke xxxx. Itulah salah satu contoh promosi yang dilatarbelakangi penyelenggaraan bisnis SMS Premium. Mau tahu lebih jauh tentang bisnis sms premium ini ? Lanjut !
Bisnis SMS Premium sering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font style="color: black; font-size: 14px;">Ketik  Klantink, maka akan terlihat tulisan suarakelana berbisik nongkrong di nomor satu pencarian <a href="http://www.google.com/">google</a>. Hehe, bukan begitu maksudnya. Yang benar adalah : ketik Klantink, lalu kirim ke xxxx. Itulah salah satu contoh promosi yang dilatarbelakangi penyelenggaraan <strong>bisnis SMS Premium</strong>. Mau tahu lebih jauh tentang <strong>bisnis sms premium</strong> ini ? Lanjut !</p>
<p>Bisnis SMS Premium sering kita jumpai dalam bentuk-bentuk berikut : acara kuis, polling sms untuk acara kontes, permintaan info tertentu, berlangganan ramalan zodiac, berlangganan cerita humor, dsb. Acara-acara kontes di layar kaca semacam Indonesian Idol dan IMB menggunakan jasa polling sms ini, yaitu menggunakan SMS Pull. Sedangkan layanan yang perlu mendaftar lebih dulu dengan ketik REG merupakan SMS Push. Tipe kedua ini yang sering bermasalah disaat kita UNREG, karena sering gagal dan terpaksa ganti nomor untuk stop berlangganan.</p>
<p>Secara garis besar ada 3 pihak yang terlibat dalam bisnis SMS Premium ini. Yang pertama adalah operator seluler (baik GSM maupun CDMA). Yang kedua adalah para pelanggan operator seluler tersebut. Yang ketiga adalah penyedia layanan, yang lebih dikenal sebagai Content Provider (CP). Operator sendiri dapat bertindak sebagai CP, namun biasanya bagian ini melibatkan pihak ketiga.<span id="more-233"></span></p>
<p>Proses kerjanya, pelanggan akan mengirimkan SMS ke sebuah nomor khusus  berupa shortnumber. SMS tersebut kemudian akan diterima oleh SMS Center si operator. Selanjutnya oleh operator, SMS tersebut akan diteruskan ke CP. Data SMS ini yang diolah untuk penilaian.</p>
<p>Untuk SMS yang membutuhkan balasan, prosesnya sama dengan di atas. Namun setelah data diterima CP, selanjutnya CP mengolah data SMS tsb dan hasilnya akan dikembalikan ke operator. Operator kemudian akan meneruskan hasil proses CP tersebut menjadi SMS balasan bagi si pelanggan.</p>
<p>Dalam masalah pentarifan, dikenal istilah Mobile Originating (MO) Tariff dan Mobile terminating (MT) Tariff. Dalam MO Tariff, pelanggan langsung dikenakan biaya saat mengirim SMS. Contohnya saat anda mengirim sms mendukung Klantink, anda langsung kena charge. Sedangkan untuk MT Tariff, biaya dikenakan bila balasan sudah diterima pengirim sms.</p>
<p>Nah, dalam bisnis sms premium ini yang ingin saya soroti adalah dimana kita bisa menemukan peluang bisnis disini. Sekitar tahun 2005 saya dan kawan-kawan pernah iseng mencoba bisnis ini. Kami bekerjasama dengan salah satu CP, dengan membayar sejumlah uang sebagai fee penyelenggaraan SMS Content.</p>
<p>Kalau kerjasama dengan CP, biasanya short numbernya sudah ditambahi kode lain. Memang agak lebih panjang sih, tapi ‘kan biaya investasinya lebih murah dibanding jadi CP langsung. Waktu itu kami cuma mengeluarkan dana puluhan juta, padahal untuk jadi CP mesti bermodal ratusan juta rupiah.</p>
<p>Kami bisa memilih apakah hanya untuk beberapa operator saja atau untuk full operator. Tentunya masing-masing punya harga fee yang berbeda. Full operator jelas lebih mahal, tapi peluang menjaring peserta lebih besar karena bisa diikuti oleh semua orang dengan berbagai jenis operator telepon. </p>
<p>Dari nilai SMS Premium yang sebesar 2000 rupiah, sekitar 60% menjadi hak operator telepon dan sisanya menjadi hak CP. Jika anda bekerja sama dengan CP maka bagian anda ditentukan sesuai perjanjiannya. Misalnya saja, anda mendapat 20% yang berarti sekitar rp. 400,- per sms. </p>
<p>Nah, bagian rp 400,- per sms ini bisa anda mainkan untuk mendukung upaya marketing. Misalnya saja anda menjalin kerjasama dengan suatu event organizer (EO) dengan memberikan sekian persen dari bagian anda. Atau bisa juga anda bekerjasama dengan organisasi di sekolah-sekolah atau kampus dan menyisihkan sebagian bagian anda untuk mendukung pembiayaan acara.</p>
<p>Dengan cara pembagian hasil ini, maka masing-masing pihak akan berusaha maksimal untuk mencapai hasil sms yang banyak. Hal ini bermanfaat bagi bisnis anda untuk mengurangi biaya-biaya yang bersifat tetap.  Beberapa event yang pernah kami coba dengan pola kerjasama tersebut adalah ajang pemilihan Mojang Jajaka, kontes bayi sehat, kerjasama dengan sekolah untuk beberapa jenis lomba, dsb.</p>
<p>Bagaimana dengan pengawasan data hasil sms ? Bila anda bekerjasama langsung dengan sebuah CP, biasanya anda akan diberi aplikasi untuk mengawasi nomor yang dikerjasamakan dengan anda. Tapi anda tidak bisa lagi menurunkan aplikasi tersebut ke mitra EO. Solusinya mudah saja, yaitu mengajak salah seorang dari personil EO untuk ikut mengelola aplikasi tersebut.</p>
<p>Akhirnya, seperti berlaku pada banyak bisnis, maka <a href="http://www.suarakelana.com/2010/09/27/kerja-keras-membangun-bisnis/">kerja keras</a>, kreatifitas, dan networking anda amat menentukan keberhasilan di bisnis ini. Saya cuma berpesan saja, kalau ingin mencoba bisnis ini, jadilah pebisnis yang baik. Jangan semata mengejar omzet tapi dengan membuat ulah yang merugikan konsumen dan membuat jengkel. Contohnya yaitu kasus UNREG yang sering gagal seperti disebutkan di atas.</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.suarakelana.com/2010/10/10/bisnis-sms-premium/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>62</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (enhanced) (user agent is rejected)
Database Caching 7/12 queries in 0.062 seconds using disk

Served from: www.suarakelana.com @ 2012-02-05 20:34:17 -->
