Blog Bisnis Dan Pekerja

Transformasi Mental Perilaku Usaha

Browsing Posts in Pekerja

Oleh: Agus Siswoyo

agus siswoyo

Agus Siswoyo Penulis Tamu

Sekitar lima tahun lalu saya bergabung dalam perusahaan tempat saat ini bekerja. Dan beruntungnya, saya selalu ditugaskan menjalankan openning cabang baru di luar kota. Bisa Anda bayangkan, seorang pendatang dari desa harus berkelana kemana-mana. Saya sempat stress juga. Tapi itu tidak lama.
.

Nggak tahu atas pertimbangan apa, setelah dua tahun keliling Jawa Timur, akhirnya saya ditempatkan di kantor pusat sebagai Cost Analyst sekaligus diberi tangggungjawab mengelola sebuah tempat tinggal karyawan (mess). Saya sempat tidak percaya diri. Masak seorang ABG imut-imut macam saya harus jadi kepala rumah tangga? Padahal dalam mess itu sendiri terdapat 5 orang yang usianya jauh di atas saya, bahkan sudah berkeluarga.

Rupanya pimpinan perusahaan punya pertimbangan lain. Saya dianggap mampu ‘mengendalikan’ aneka karakter karyawan yang berasal dari berbagai latar belakang kehidupan.  Saya pun nggak bisa mengelak dari tanggungjawab ini. Mau tahu gimana rasanya jadi Bapak di usia ABG? Yang pasti puyeng dan harus sering nyebut nama Gusti Allah. continue reading…

Jika anda ditanya, lebih suka naik gaji atau naik pangkat, apa jawaban anda ? Beberapa kawan secara berseloroh menjawab, “ Naik gaji, dong ! Saya enggak perlu naik pangkat asalkan gaji saya naik terus ! Ujung-ujungnya ‘kan yang penting duit.” Betulkah naik pangkat sebenarnya tidak terlalu perlu apabila gaji bisa naik terus ?

Fakta yang terjadi adalah bahwa saat seseorang naik pangkat hampir pasti dia juga naik gaji. Hal ini karena pangkat atau jabatan yang lebih tinggi biasanya menuntut tugas dan tanggung jawab yang lebih berat. Dengan demikian sewajarnya bila peraturan yang dibuat menyeimbangkan hak yang diperoleh dengan tugas dan tanggung jawab yang diembannya.

Namun seseorang yang naik gaji belum tentu naik pangkat. Hal ini biasanya terjadi pada perusahaan yang menerapkan kenaikan gaji berkala. Bisa juga terjadi dalam bentuk kenaikan gaji secara masal terhadap seluruh karyawan karena perusahaan mengalami kemajuan pesat atau untuk mempertahankan manfaatnya bagi karyawan. continue reading…

Selain naik pangkat, kosa kata lain yang juga lekat dengan dunia pekerja adalah THR (Tunjangan Hari Raya) dan mudik. THR dan Mudik akan menjadi kosakata populer pada saat menjelang hari raya Idul Fitri. Menjadi penghias beragam cerita yang ditayangkan media, kadang cerita gembira kadang cerita memprihatinkan.

Ceritanya akan mengundang kegembiraan bila berupa pengumuman pihak manajemen bahwa THR akan dibayarkan tanggal sekian sebesar sekian kali gaji misalnya. Atau ada perusahaan yang menyelenggarakan mudik gratis buat para karyawannya. Tapi sebaliknya akan menjadi cerita memprihatinkan bila terdengar berita bahwa perusahaan karena sesuatu dan lain hal tidak bisa membayar THR para karyawannya. Rencana mudik pun bisa berantakan akhirnya.

Jika dipikir lebih jauh, kebutuhan dana untuk berlebaran dan mudik sebenarnya sudah merupakan kebutuhan rutin tiap tahun. Selayaknya suatu kebutuhan rutin, semestinya tiap pekerja sudah menganggarkan dari penghasilan rutinnya. Tapi itu teori, pada kenyataannya pekerja selalu saja amat membutuhkan yang namanya THR. continue reading…

Dari judulnya sudah jelas, artikel Fun Works ini berbicara tentang pekerja. Mengapa menggunakan kata Fun Works segala, nanti akan jelas setelah anda membacanya. Enggak usah terlalu serius membacanya, yang fun aja. Namanya juga Fun Works gitu loh..!

Kalau selama ini banyak diulas tentang mindset pebisnis, sekarang saya ingin menulis tentang mindset pekerja. Pekerja dalam arti luas, bisa pekerja kantoran di instansi atau perusahaan, bisa juga pekerja mandiri dan pekerja rumahan. Yang diulas juga bukan hal yang berat-berat, tapi kesenangan dalam bekerja.

Kita sudah sering mendengar ucapan-ucapan seperti berikut ini :

“Ayo cepat kita selesaikan, setelah itu kita bersenang-senang !”
“Hei, kerja yang serius ! Jangan sambil bercanda dan bersenang-senang !”
“Jangan berharap hasilnya bagus. Lihat saja cara mereka bekerja! Terlalu banyak hura-hura dan ketidakseriusan !”

continue reading…

Mumpung udara masih beraroma keong racun, saya tulis artikel ini. Komentar dua kawan saya tentang Shinta dan Jojo beberapa hari lalu di telepon, memberi inspirasi kepada saya untuk menulis artikel tentang pekerja, yang sudah lama tidak saya lakukan. Lho, apa hubungannya dengan pekerja ? Pekerja budidaya keong racun mungkin ? Enggak lah ! Begini ceritanya.

Indri, kawan saya yang masih muda usia, saat ngobrol di telepon sinis mengatakan bahwa tampil dan membuat klip begituan mah gampang, dia juga bisa. Saya tanya, udah membuat berapa banyak ? “Ah, males ! Enggak seru ! Kurang menantang !”, begitu jawabnya. Artinya, dia belum membuat satupun.

Kawan saya satunya, lain lagi bicaranya. Dia mengatakan bahwa putri-putrinya sering melakukan itu di webcam laptopnya. Malah lebih lucu-lucu. Ketika saya tanya, pernah dipublikasikan enggak ? ke Youtube misalnya ? Wah, belum pernah ! Cuma nongkrong di laptop aja buat konsumsi keluarga. continue reading…