Cukup banyak kawan yang menanyakan apakah pernah gagal atau rugi dalam bisnis yang saya jalankan. Jawabannya mudah ditebak. Saya beberapa kali gagal dalam bisnis, dan saya juga beberapa kali menderita kerugian yang lumayan besar. Dan satu hal lagi yang mudah ditebak, yang bertanya pastilah bukan dari kalangan pebisnis. Kalau pun pebisnis, pastinya baru akan memulai berbisnis.

Sobat sekalian, setelah seminggu lebih vakum dari dunia blogging akibat terkena dampak cuaca ekstrim, kali ini saya akan menulis sedikit tentang topik yang kurang disukai orang. Yaitu tentang kegagalan dan atau kerugian dalam bisnis. Saya katakan kurang disukai karena umumnya orang lebih tertarik mendengar tentang kesuksesan. Wajar saja !

Nah, kalau pertanyaan di atas umumnya datang bukan dari kalangan pebisnis, hal itu karena seorang pebisnis tahu betul bahwa gagal atau rugi dalam bisnis adalah hal yang biasa. Bagian dari resiko berkecimpung dalam dunia bisnis. Jadi tidak perlu lagi ditanyakan. Setidaknya itu yang tadi sore disampaikan oleh Kang Pepen, yang menggeluti bisnis jasa pembuatan peralatan dari logam.

Kehadiran Kang Pepen ke rumah saya karena urusan dengan istri saya berkaitan dengan pembuatan autoclave untuk sterilisasi baglog jamur. Sambil membicarakan pekerjaan yang akan dilakukan, kami sempat ngobrol sekilas tentang perbedaan karyawan dengan pebisnis. Tentunya dari sudut pandang seorang praktisi bisnis kecil-kecilan, bukan pebisnis besar, dan jauh dari aroma akademis.

Menurut Kang Pepen, ada dua perbedaan nyata antara karyawan dan pebisnis. Pertama, dalam hal penghasilan (take home pay). Karyawan memiliki penghasilan yang sudah tetap dan rutin, tidak tergantung hasil pekerjaannya. Sedangkan penghasilan pebisnis tidak menentu, tergantung kinerja bisnis yang dijalankan. Kadang banyak proyek, kadang sepi. Kadang untuk besar, kadang malah merugi.

Kedua, cara pandang terhadap kegagalan atau kerugian. Karyawan umumnya memandang hal tersebut sebagai aib, fatal, sangat menakutkan, bahkan seperti akhir dunia. Hm, setuju saya karena saya sendiri pernah merasakan nuansa tersebut saat memimpin koperasi karyawan dulu. Sedangkan bagi pebisnis, kata Kang Pepen, gagal dalam suatu usaha atau mengalami suatu kerugian bukan merupakan hal aneh.

Seorang pebisnis menyadari betul bahwa dalam setiap langkah bisnisnya selalu mengandung potensi kegagalan atau kerugian. Meskipun sudah melalui analisis njelimet dan perencanaan matang, kemungkinan itu tidak pernah bisa dinolkan. Yang penting, ini menurut Kang Pepen, jangan berhenti melangkah hanya karena mengalami kegagalan atau kerugian dalam suatu usaha.

Kang Pepen merasa penting sekali menyampaikan hal yang terakhir ini, khususnya ditujukan kepada istri saya yang sedang akan memulai bisnis baru. Dia mencontohkan beberapa kawannya yang berstatus karyawan, saat memulai usaha dan gagal lalu menjadi kapok dan takut mencoba lagi. “Mereka mah punya gaji, kalau saya gagal dan menjadi takut mencoba lagi, lalu anak-istri saya mau makan apa ?” ujar Kang Pepen sambil tertawa.

Saya sepakat dengan pendapat kang Pepen, bahwa bisnis tidak ubahnya peperangan. Boleh saja kita gagal dalam suatu usaha, boleh saja kita menderita kerugian dalam suatu transaksi bisnis, asalkan bisnis tetap jalan dan secara keseluruhan terus meningkat menuju kesuksesan yang lebih besar. Tidak mengapa kalah dalam suatu pertempuran, asalkan tetap bisa memenangkan peperangan.