Oleh: Agus Siswoyo

agus siswoyo

Agus Siswoyo Penulis Tamu

Sekitar lima tahun lalu saya bergabung dalam perusahaan tempat saat ini bekerja. Dan beruntungnya, saya selalu ditugaskan menjalankan openning cabang baru di luar kota. Bisa Anda bayangkan, seorang pendatang dari desa harus berkelana kemana-mana. Saya sempat stress juga. Tapi itu tidak lama.
.

Nggak tahu atas pertimbangan apa, setelah dua tahun keliling Jawa Timur, akhirnya saya ditempatkan di kantor pusat sebagai Cost Analyst sekaligus diberi tangggungjawab mengelola sebuah tempat tinggal karyawan (mess). Saya sempat tidak percaya diri. Masak seorang ABG imut-imut macam saya harus jadi kepala rumah tangga? Padahal dalam mess itu sendiri terdapat 5 orang yang usianya jauh di atas saya, bahkan sudah berkeluarga.

Rupanya pimpinan perusahaan punya pertimbangan lain. Saya dianggap mampu ‘mengendalikan’ aneka karakter karyawan yang berasal dari berbagai latar belakang kehidupan.  Saya pun nggak bisa mengelak dari tanggungjawab ini. Mau tahu gimana rasanya jadi Bapak di usia ABG? Yang pasti puyeng dan harus sering nyebut nama Gusti Allah.

Humas Bagi Lingkungan Sekitar

Seorang Bapak Mess (begitu saya menyebutnya) dalam prakteknya bukan hanya bertindak selaku koordinator aktivitas para penghuni rumah. Lebih dari itu, dia juga berfungsi sebagai penghubung komunikasi antara perusahaan dengan lingkungan masyarakat sekitar. Baik itu dalam konteks hubungan sosial kemasyarakatan ataupun memberikan informasi penting terkini tentang perusahaan.

Sekali waktu seorang Bapak Mess harus meluangkan waktu nongkrong di warkop untuk sekedar menyapa abang-abang becak. Yang diomongkan pun harus mewakili visi dan misi perusahaan. Tapi tentu saja disampaikan dengan bahasa sehari-hari. Jangan berkhayal saya bakalan bahas nomor togel. Itu nggak masuk daftar prioritas.

Di sisi lain, seorang Bapak Mess dituntut bisa bersikap fleksibel terhadap aturan lingkungan tempat tinggal. Misalkan mengenai tarif iuran warga, dana sosial, dana kematian, sumbangan lain-lain bahkan menghadiri rapat RT tiap bulan. Bisa Anda bayangkan bagaimana seorang pemuda seperti saya harus memakai baju batik dan berkumpul dengan Bapak-Bapak yang sebagian sudah beruban.

Sehingga tak jarang saya dituntut untuk bisa menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat yang semakin beraneka ragam latar belakang, tujuan dan motif yang terkandung dibalik sebuah aksi. Misalkan kalau Pak RT bicara gini, saya harus bisa tanggap apa maksudnya. Sedang minta sumbangan dana kah?

Melatih Kematangan Mental

Yang paling susah adalah waktu penghuni mess karyawan melakukan tindakan yang menimbulkan keresahan bagi masyarakat sekitar. Misalkan melakukan pesta miras, mengundang teman perempuan (baca: pacar), terlibat tindak kriminal narkoba, tawuran antar geng dan lain-lain.

Dalam kondisi demikian, seorang Bapak Mess wajib memiliki ketegasan dalam bersikap. Untuk saya pribadi, saya berprinsip “Kamu boleh tinggal disini tapi harus ikuti aturan perusahaan. Jika tidak, silakan cari tempat lain untuk menyalurkan aktifitas pribadimu”.

Awalnya memang tidak mudah mengatakan hal tersebut. Bisa jadi saya akan menerima ancaman balik secara fisik dan mental. Misalnya waktu bepergian dicegat sekelompok orang di tengah jalan. Tapi alhamdulillah sejauh ini cara tersebut cukup efektif untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Apa kuncinya? Lakukan pendekatan pribadi kepada masing-masing penghuni mess. Bila perlu, dampingi mereka saat masalah sulit menghadang. Hal ini bermanfaat dalam menumbuhkan sifat saling pengertian antara perusahaan, karyawan dan masyarakat di lingkungan sekitar. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?

Makin lama saya makin enjoy dengan keadaan ini. Bukan karena berhasil mengatur hidup beberapa orang, tapi lebih kepada sarana pembangun kematangan berpikir dan bersikap di masyarakat. Hal ini tentu tidak akan saya dapatkan jika saya tidak berani memegang amanat menjadi Bapak Mess. Sampai-sampai saya bisa menasehati kawan kerja yang terbiasa ‘ngambek’ nggak mau pulang karena berantem sama istrinya.

Hmm, I love my life! Hidup Bapak Mess…!!!