Mumpung udara masih beraroma keong racun, saya tulis artikel ini. Komentar dua kawan saya tentang Shinta dan Jojo beberapa hari lalu di telepon, memberi inspirasi kepada saya untuk menulis artikel tentang pekerja, yang sudah lama tidak saya lakukan. Lho, apa hubungannya dengan pekerja ? Pekerja budidaya keong racun mungkin ? Enggak lah ! Begini ceritanya.
Indri, kawan saya yang masih muda usia, saat ngobrol di telepon sinis mengatakan bahwa tampil dan membuat klip begituan mah gampang, dia juga bisa. Saya tanya, udah membuat berapa banyak ? “Ah, males ! Enggak seru ! Kurang menantang !”, begitu jawabnya. Artinya, dia belum membuat satupun.
Kawan saya satunya, lain lagi bicaranya. Dia mengatakan bahwa putri-putrinya sering melakukan itu di webcam laptopnya. Malah lebih lucu-lucu. Ketika saya tanya, pernah dipublikasikan enggak ? ke Youtube misalnya ? Wah, belum pernah ! Cuma nongkrong di laptop aja buat konsumsi keluarga.
Komentar dua kawan saya tersebut mengingatkan saya kepada dua orang kawan kerja semasa saya masih menjadi karyawan dulu. Ini kisah mereka.
Dulu sekali saya pernah punya kawan di kantor yang saya juluki Nona Sinis. Mengapa ? Karena dia adalah tipe karyawan yang selalu sinis bila melihat kreasi orang lain. Jika ada karyawan lain yang berkreasi membuat sesuatu dan dihargai orang lain, dia selalu mengatakan bahwa dia pun bisa kalau cuma begitu. Tapi herannya dia tidak pernah menelurkan kreasi apa pun yang layak dihargai.
Hanya tahu tanpa mengerjakan, anda baru di tahap karyawan potensial, belum produktif. Saat perusahaan merekrut anda, nilai potensial anda memang yang dicari. Namun setelah bekerja, produktifitas anda yang dibutuhkan, bukan cuma potensi. Apa gunanya mempekerjakan anda jika hanya potensial menghasilkan sesuatu tapi tak kunjung juga menghasilkan. Cape dehhh…!
Mengubah potensi yang anda miliki menjadi sesuatu yang produktif adalah melalui tindakan. Mengerjakan ! Action ! Itulah kuncinya. Jangan seperti Nona Sinis yang merasa mampu mengerjakan segala hal, tapi tidak satu pun kreasi yang dihasilkan. Akhirnya kemampuan yang dimiliki cuma untuk alat membantai ide dan pekerjaan orang lain.
Selain Nona Sinis, ada satu karyawan lagi yang pantas kalau saya juluki sebagai Tuan Kemasan. Dia sangat pandai mengemas hasil suatu pekerjaan, baik pekerjaannya sendiri atau orang lain. Hasil kerja Tuan Kemasan ini sendiri sebenarnya termasuk amburadul, tapi karena pandainya dia mengemas dan melaporkan ke pihak manajemen, gaungnya lebih besar dibanding karyanya itu sendiri.
Yang kacau adalah bila dia mengemas pekerjaan orang lain. Karyawan yang mengerjakan cuma terlihat punya andil kecil, sedangkan dirinya disulap jadi berperan besar. Itu karena kepiawaiannya mengemas, menyajikan, dan membuat laporannya. Betul-betul asli tukang kemasan.
Bila anda telah berbuat dan menyelesaikan pekerjaan, tugas anda sebenarnya belum selesai. Anda mesti mengemas hasil kerja anda agar menarik dan membuat laporannya. Mampu menonjolkan kelebihan yang anda miliki dan mampu menarik perhatian orang yang menilainya. Narsis sedikit tidak mengapa, tokh itu memang hasil pekerjaan anda.
Jika anda lalai mengemas dan menunjukkan hasil kerja anda, maka Tuan Kemasan akan melakukannya. Jangan berpikir terlalu naif bahwa yang seperti itu tidak ada di sekitar anda. Bekerjalah secara tuntas hingga proses pelaporannya. Karena semua itu adalah raport anda dan penentu karir anda selanjutnya.
Kesimpulannya, punya ide saja tidaklah cukup. Anda perlu mewujudkannya menjadi suatu hasil karya, lalu menyajikannya menjadi sesuatu yang menarik untuk ditunjukkan kepada orang lain. Entah itu atasan, rekan kerja, atau bahkan pelanggan jika pekerjaan anda berhubungan dengan pelanggan. Dengan demikian anda telah bekerja secara efektif dalam menunjang peningkatan karir anda.
Nah, buat anda karyawan yang merasa punya banyak ide brilian, wujudkan ide anda dengan tindakan dan tunjukan hasilnya kepada pihak yang berkepentingan. Hati-hati bila memiliki rekan kerja semacam Nona Sinis dan Tuan Kemasan. Nona Sinis akan menghakimi ide Anda habis-habisan, Tuan Kemasan akan memanfaatkan ide anda habis-habisan. Walhasil, anda lah yang akan habis beneran.
Waspadalah ! Waspadalah!
Comments
Leave a comment Trackback