Belakangan ini begitu ramainya pemberitaan tentang tabung gas 3 kg yang meledak. Amat memprihatinkan. Sekaligus menimbulkan rasa tidak aman bagi semua lapisan masyarakat, karena hampir semua rumah saat ini memiliki tabung gas. Ukuran kg yang mana pun yang dimiliki tetap tidak bisa lepas dari rasa khawatir.
Lalu apa yang ada dalam pikiran anda dengan kondisi tersebut ? Pastinya prihatin campur khawatir juga, bukan ? Tapi apakah cuma itu ? Jika memang demikian, perhatikan yang berikut ini.
Beberapa hari yang lalu pada tayangan televisi saya menyaksikan ada orang yang berkeliling kampung memasarkan regulator tabung gas. Dengan cara tertentu, orang tersebut berupaya meyakinkan para ibu rumah tangga agar membeli barang dagangannya. Dengan peragaan yang mudah diterima orang awam, tampaknya pemasar tersebut mampu menjawab kebutuhan akan rasa aman dari para ibu rumah tangga.
Apa yang dilakukan oleh pemasar tersebut disebut sebagai Fear Marketing. Cara pemasaran ini memanfaatkan rasa takut yang dialami seseorang atau masyarakat. Cara pemanfaatannya bisa dengan cara merespons rasa takut yang memang sudah disadari orang, atau bisa juga dengan membangkitkan kesadaran adanya hal yang perlu diwaspadai atau ditakuti. Dan dia menawarkan produk yang menjadi solusinya.
“Wah, nggak bener neh ! Cara yang tidak etis ! “, begitu mungkin tanggapan anda. Benarkah demikian ?
Buat saya hal itu tidak ada hubungannya dengan etis dan tidak etis. Bahkan saya menganggapnya sebagai langkah cerdas, yang dilandasi gabungan dari rasa kepedulian terhadap masyarakat dan kepekaan naluri bisnis.
Selagi ketakutan itu bukan sengaja dia ciptakan untuk memanipulasi keadaan. Selagi produk yang ditawarkan memang menjawab kebutuhan rasa aman warga masyarakat.
Contoh di atas sebenarnya bukan sebatas menggambarkan kepekaan seorang penjual barang saja, tapi lebih jauh lagi menyangkut kepekaan terhadap suatu peluang bisnis. Seorang pebisnis handal sangat peka dalam mencium apa yang sedang menjadi kebutuhan masyarakat banyak. Dari identifikasi kebutuhan tersebutlah selanjutnya akan lahir produk-produk sebagai solusi pemenuhannya.
Kebutuhan manusia muncul dengan banyak sebab. Ada kebutuhan akibat proses biologis berupa makanan dan minuman, kebutuhan perlindungan tubuh berupa pakaian, dan tidak kalah pentingnya adalah kebutuhan akan rasa aman terhindar dari rasa takut dan khawatir. Dan yang terakhir ini semakin banyak ragamnya seiring peningkatan kualitas hidup manusia.
Banyak contoh bisnis dan atau produk yang tercipta di atas ketakutan orang. Mari kita lihat beberapa diantaranya.
Orang takut aset miliknya hilang dicuri orang, maka muncul beragam jenis kunci pengaman. Ada kunci rumah, ada kunci pintu mobil, kunci brankas, dan sebagainya. Maka muncullah bisnis pembuatan kunci. Jika saja tidak ada orang yang mau mengambil barang yang bukan miliknya, sehingga orang tidak perlu memiliki rasa takut kehilangan, maka beragam kunci tersebut tidak dibutuhkan.
Kemajuan teknologi telah membuat orang bergerak semakin cepat menggunakan mesin yang mereka ciptakan. Sebagai akibat sampingannya, muncul rasa kekhawatiran terjadinya kecelakaan. Maka terciptalah bisnis helm, sabuk pengaman, dan produk sejenisnya. Jika pergerakan manusia tetap hanya mengandalkan jalan kaki, rasanya tidak akan muncul kebutuhan akan produk-produk tersebut.
Jika di jaman Monalisa, wanita gemuk dianggap seksi, maka saat ini wanita yang dianggap seksi adalah yang langsing padat berisi. Menjadi gemuk telah menjadi momok menakutkan bagi wanita di abad ini. Akibatnya muncul beragam bisnis senam dan perawatan tubuh, termasuk beragam produk untuk menjaga tubuh tetap slim.
Dan masih banyak lagi contohnya, sobat pembaca bisa mencari sendiri. Mengamati bagaimana rasa takut telah menimbulkan beragam kebutuhan baru merupakan kegiatan mengasyikan sekaligus bermanfaat. Kita menjadi lebih peka terhadap apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan pada gilirannya membuat kita semakin mampu menangkap peluang bisnis yang muncul dari keadaan tersebut.
Pertanyaannya : apakah anda sudah mengamati dan sudah peka terhadap hal-hal tersebut ? Sudahkah anda berhasil menangkap salah satu peluang bisnis yang muncul dari kondisi tersebut ?
Comments
Leave a comment Trackback