Pada postingan yang lalu tentang Balik Modal, kita telah membahas tentang modal bisnis. Sesuai janji saya, kali ini kita akan melihat istilah yang sering kita dengar, yaitu balik modal. Istilah ini agak sulit dicari di buku-buku formal bisnis keuangan. Yang ada adalah BEP, ROI, EBITDA, dan semacamnya. Atau mungkin karena saya sudah jarang ke toko buku ya ?

Setidaknya ada dua versi tentang kembalinya modal dalam suatu bisnis. Saya agak bingung dalam memberi nama kedua versi tersebut. Mohon maaf jika nama ini tidak tepat, namun agar memudahkan penjelasan saya beri nama saja versi formal dan versi non formal. Saya akan menggambarkan keduanya dalam bentuk contoh kasus.

Balik Modal Versi Formal.

Masdi, kawan saya, adalah pemilik bisnis pembuatan tas parasut dan beberapa bisnis produksi lainnya. Bisnis tasnya masih kelas industri rumahan, mirip kerajinan tas Lik No, tapi omzetnya lumayan karena melayani permintaan beberapa depstore di beberapa kota. Modal yang dimiliki digunakan untuk sewa rumah produksi, peralatan, kendaraan, modal bahan baku dan biaya operasinal.

Ketika saya tanyakan apakah bisnis-bisnisnya sudah balik modal, dia menjawab, “ Belum satu pun !” Kok bisa begitu ? Padahal saya tahu keuntungan bisnisnya lumayan besar dan sudah lumayan lama. Dan ini jawabannya, “ Modal saya terus berputar di bisnis selama bisnis tersebut berjalan. Enggak pernah balik. Yang muncul paling-paling keuntungan tiap bulan atau tiap tahun.”

Balik Modal Versi Non formal.

Sohim, kerabat istri saya, adalah tukang nasi goreng di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Usahanya terbilang berhasil hingga dia memiliki beberapa rombong (gerobak dorong) yang masing-masing sudah memiliki tempat mangkal yang bagus. Modal usahanya adalah seharga rombong yang dimiliki, tenda dan peralatannya, plus seluruh nilai barang dagangannya.

Dia bercerita kepada saya bahwa dalam beberapa bulan saja dia telah balik modal. Bulan-bulan selanjutnya tinggal keuntungan saja. Modal yang kembali ini amat penting, karena bila suatu ketika rombongnya disita karena terkena penertiban maka dia telah memiliki kesanggupan untuk menebus atau memodalinya lagi.

Dari dua kasus tersebut kita lihat ada dua pandangan yang berbeda tentang istilah balik modal. Mari kita telaah lebih ke dalam satu persatu. Kita lihat dulu kasus kedua yang versi nonformal karena lebih sederhana.

Dalam kasus kedua ini, Sohim menghitung semua keuntungan yang didapatnya setiap hari. Dia mengatakan telah balik modal bila jumlah akumulasi keuntungan yang diraihnya telah sama dengan seluruh modal yang dikeluarkan. Itu sama saja artinya bahwa modalnya telah berlipat dua, karena di luar akumulasi keuntungan tersebut, rombong dan dagangannya tetap utuh beroperasi untuk mencari keuntungan terus menerus setiap hari.

Apa yang disebut keuntungan juga sederhana perhitungannya. Seluruh hasil penjualan harian dikurangi dengan seluruh pembelian bahan baku, upah harian karyawan, dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan pada hari itu. Sisanya merupakan keuntungan.

Hal ini agak mirip dengan kasus bisnis afiliasi ebook. Misal membeli ebook dan join afiliasi senilai 100 ribu rupiah, dengan fee afiliasi 50%. Setelah berhasil menjual sebanyak dua kali, sering dikatakan bahwa bisnis afiliasinya telah balik modal. Hal yang agak kurang tepat hanya pada masalah biaya operasional, karena biaya penyelenggaraan bisnis seperti sewa internet dan peralatan tidak diperhitungkan.

Selanjutnya untuk versi formal pada kasus pertama. Disini uraiannya agak lebih rumit. Biasanya disini meliputi penyelenggaraan sistem pembukuan berdasarkan standar akuntansi yang berlaku. Yang disebut keuntungan adalah keuntungan bersih karena telah dikurangi dengan semua biaya, termasuk biaya penyusutan semua aset fisik.

Modal tidak pernah dianggap kembali karena terus berputar dalam kegiatan bisnis. Terhadap seluruh aset fisik yang bisa rusak dilakukan penyisihan dana sebagai biaya depresiasi atau penyusutan. Nilainya tergantung umur ekonomis aset dimaksud. Dengan demikian keberadaan aset dipertahankan terus menggunakan dana ini.

Demikian juga dengan biaya produksi dan biaya lainnya. Biaya produksi dikenal sebagai Harga Pokok Pembelian, yang terdiri dari biaya bahan baku dan biaya upah pekerja. Biaya lainnya meliputi biaya pemasaran, biaya sewa, dan lain-lain. Dana untuk keperluan biaya-biaya ini juga dipertahankan di dalam bisnis sehingga bisnis tetap berjalan.

Disini biasanya kita mengenal istilah keuntungan bersih berupa Pendapatan Sebelum Pajak (Earning Before Tax = EBT). EBT ini bisa disamakan dengan Return dalam konsep ROI pada perencanaan bisnis. Misal bila ROI nya 20% berarti keuntungan bersihnya dalam setahun senilai seperlima dari total modal yang diinvestasikan. Dalam istilah balik modal, dapat saja dikatakan bahwa bisnis tersebut akan balik modal dalam 5 tahun.

Demikian ulasan yang dibuat sesederhana mungkin. Semoga cukup jelas dan bermanfaat buat bisnis sobat pembaca. Hal yang kurang jelas bisa disampaikan di kotak komentar.