Alhamdulillah, akhirnya saya bisa posting juga. Setelah dua hari hidup tanpa internet, gara-gara jaringan internet ke rumah ngambek, malam ini kembali bisa mengunjungi rumah kedua saya, rumah di alam maya : blog saya. Termasuk juga mengunjungi blog para sahabat.
Saya tidak sabar untuk menulis postingan ini. Mengapa ? Karena saya telah menulis di postingan sebelumnya topik yang baru sebatas saya tahu tapi belum saya geluti benar-benar. Meskipun saya tahu itu hal yang biasa, tapi tetap saja saya kurang merasa nyaman di hati.
Ada alasan tertentu mengapa saya memposting tulisan tentang bisnis properti tersebut. Namun sebelum kita ulas lebih lanjut, saya ingin mengucapkan terima kasih dulu kepada para sobat blogger yang telah serius menanggapinya. Respons tersebut sungguh di luar dugaan saya.
Blogger, sebagai sosok yang paling rajin berkomentar, biasanya kan paling tertarik kepada topik bisnis online dan blogging. Kalau topik asing seperti ini, dugaan saya yang muncul paling juga komen spam. Kalau pun ada komentar yang cukup serius biasanya justru datang dari pengunjung non blogger. Itu juga kalau artikel sudah teroptimasi sehingga mudah ditemukan orang.
Dan itu yang terjadi di blog mas Aryo, tempat saya belajar properti yang menginspirasi saya menulis tentang properti. Kebanyakan komentator di blog tsb bukan blogger, namun pengunjung yang ingin tahu tentang properti. Materi tulisan kemarin juga sebagiannya saya ambil dari sana, dicampur dengan beberapa informasi kawan yang memang sedang menekuninya.
Respons positif rekan-rekan blogger menggembirakan hati saya, meski memang tidak seluruhnya. Saya sadar ada juga rekan blogger yang kurang berminat atau kurang paham untuk turut berkomentar. Sangat bisa dimaklumi, namun belajar memahami bisnis properti juga tidak akan sia-sia. Terlebih bagi yang memang sudah bertekad akan terjun ke dunia bisnis.
Berikut alasannya.
Alasan saya memposting topik bisnis properti karena bisnis properti bagi saya adalah muara bagi semua bisnis-bisnis yang lainnya, termasuk untuk menampung pendapatan lainnya dari hasil kerja. Pada saatnya kelak bila saya tidak ingin lagi terjun langsung di bisnis praktis, inilah pilihan utama investasi saya. Saya harus banyak belajar tentang ini, dan dengan menuliskannya membuat saya lebih banyak memperoleh wawasan seputar bisnis tersebut.
Sobat blogger yang berkiprah di bisnis online, setelah bisnis sukses dan menghasilkan uang, bisnis properti bisa menjadi lanjutan atau pelengkapnya. Yang dikejar tentunya passive income. Agar tidak perlu lagi bekerja dan menikmati pensiun lebih awal.
Nah, dalam kesempatan ini saya akan menceritakan bagaimana Kang Duduh, seorang kenalan saya, berbisnis properti kecil-kecilan. Ceritera ini melengkapi postingan sebelumnya. Anggap saja sebagai bentuk praktek nyatanya.
Kang Duduh adalah mantan karyawan sebuah perusahaan pengembang/developer perumahan. Setelah sekian tahun dia bekerja, memperhatikan betul unsur-unsur investasi dalam bekerja, akhirnya dia merasa pede untuk mandiri berbisnis. Dia membangun rumah-rumah tunggal.
Bila ada lahan yang lokasinya menarik akan dijual, berupa tanah kavling atau lahan berisi bangunan sederhana, Kang Duduh akan menyempatkan diri menengoknya. Apabila harganya cocok dan cashflow memungkinkan, dia akan membelinya. Disitulah dia merencanakan membangun properti berupa rumah tunggalnya.
Selanjutnya dia mengevaluasi pasar. Jika dia yakin akan pasarnya, dia akan langsung membangunnya. Namun bila kurang yakin, biasanya dia akan mencari calon pembeli dulu, barulah membangun. Disinilah dia berupaya menekan resiko sekecil mungkin.
Harap dimaklumi, modal Kang Duduh tidak besar. Padahal rumah yang dibangunnya berharga antara 200 juta hingga 500 jutaan per unit. Dananya hanya mampu untuk membangun satu atau dua rumah. Hanya bila rumah yang dibangunnya telah terjual maka dia membangun kembali. Begitu seterusnya.
Pengalamannya di perusahaan pengembang membantu Kang Duduh dalam menentukan disain rumah, pemilihan bahan, dan melaksanakan proyek pembangunan secara efisien. Dia tidak menggunakan kontraktor, tapi memiliki tim pekerja yang diawasinya sendiri.
Pembeli rumah buatan Kang Duduh dapat membayar secara cash atau pun kredit. Bila ingin secara kredit, Kang Duduh akan mengurus segala sesuatunya dengan pihak perbankan. Begitu juga bila secara cash, Kang Duduh mengurus semua administrasinya termasuk balik nama. Setelah selesai barulah pembayaran dilakukan. Service yang tiada duanya.
Karena tiap waktunya tidak banyak unit yang dijual, Kang Duduh bisa lebih fokus dalam pemasaran dan pelayanan kepada calon pembelinya. Proses-proses negosiasi juga bisa dilakukan lebih santai dan akrab. Layanan yang diberikan bisa lebih customize.
Satu hal yang menjadi catatan saya, Kang Duduh masih mengandalkan dana cash yang dimilikinya untuk berbisnis. Kelihatannya dia lebih memilih langkah aman dan nyaman saja, tidak mau dipusingkan masalah uang muka dan kredit perbankan. Akibatnya langkah bisnisnya memang tidak terlalu ekspansif.
Namun contoh di atas bisa memberikan sedikit gambaran bagaimana berbisnis properti skala kecil. Kebutuhan modal bisa diefisienkan dengan penerapan uang muka dan jasa KPR seperti di artikel sebelumnya. Meskipun hanya membangun satu-dua unit juga dalam satu waktu, namun hasilnya cukup lumayan dan kebutuhan modal lebih mudah dijangkau.
Comments
Leave a comment Trackback