naik pangkatNamanya juga karyawan, siapa sih yang tidak ingin naik pangkat ? Semua pasti ingin. Karena naik pangkat berarti karir meningkat, gaji naik, fasilitas semakin lengkap, kewenangan juga kian powerful. Naik pangkat juga menunjukkan kesan bahwa yang bersangkutan dinilai instansi/perusahaannya berprestasi, meski faktanya tidak selalu demikian. Disana ada kebanggaan, ada prestise.

Namun sayangnya, naik pangkat bukanlah hal mudah. Ini yang sering membuat karyawan frustrasi. Semakin tinggi jenjangnya semakin sulit untuk naik pangkat, karena posisi yang diperebutkan juga semakin sedikit. Semakin berat persaingannya, semakin berat sikut-sikutannya. Bahkan dikenal yang namanya ilmu katak. Menjejak atau menendang yang di bawah, menyingkirkan yang di kanan-kirinya, demi bisa naik ke atas. Wow…!

Secara formal, tiap institusi memiliki aturan tentang tatacara kenaikan pangkat atau promosi jabatan bagi karyawannya. Dari yang sederhana hingga yang tergolong rumit hingga melibatkan sistem yang ’computerize’ dan manajemen SDM tingkat canggih. Ada yang prosesnya sudah sedemikian teratur dan konsisten, ada juga yang masih tercampur aduk dengan berbagai kepentingan para pelaksananya.

Pihak-pihak yang sinis menganggap bahwa berbagai aturan dan tatacara proses penilaian hanyalah formalitas, pihak pejabat yang memutuskan seringkali lebih banyak subyektif dalam menentukan siapa yang layak naik pangkat atau promosi. Nepotisme masih merajalela. Sedangkan pihak-pihak yang berpikir lurus, masih percaya bahwa  sistem promosi yang dipakai sudah baik dan karyawan yang naik pangkat memang terbukti memiliki kelebihan atau prestasi.

Mana yang benar ? Dua-duanya benar dan dua-duanya salah. Artinya tidak ada yang benar mutlak atau salah mutlak. Benar adanya bahwa telah banyak institusi yang memiliki sistem promosi dan pola karir yang sangat bagus. Tapi terlalu naif bila menganggap bahwa faktor subyektifitas dari para pengelolanya telah hilang sama sekali. Bahkan pengambil keputusan akhir biasanya tetap memiliki judgement berdasarkan faktor akseptabilitas, yaitu seberapa besar figur calon dapat diterima oleh jajaran manajemen. Hal ini wajar saja karena keberhasilan institusi adalah keberhasilan tim.

Dari pada pusing memikirkan semua hal di atas, lebih baik kita merumuskan langkah terbaik untuk bisa naik pangkat/promosi. Beberapa cara yang bisa dilaksanakan saya sebut sebagai jurus ”2 plus 2”. Dua yang pertama adalah :

  1. Bersedia jadi sukarelawan. Jangan hanya terpaku kepada job desc, jangan ragu untuk membantu atasan mengatasi permasalahannya. Membuat atasan senang bukan perbuatan tercela, selagi memang baik juga buat institusi. Ingat, disaat ada rekan kerja yang bekerja tidak maksimal atau mengabaikan tugasnya, di saat itu pula terbuka peluang bagi anda untuk tampil disana. Gunakan cara yang bijaksana tanpa menyinggung perasaan rekan lain.
  2. Bersedia belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. Meski lemot enggak masalah, yang penting ada kemauan kuat untuk meng-upgrade diri.

Berat ? Ya, iyalah…namanya juga mau promosi. Itu pun belum cukup menjamin bisa berhasil. Nah, dua yang berikut ini perlu dilakukan untuk menambah persentase kemungkinan berhasilnya. Yaitu :

  1. Bersedia mencari tahu dimana titik-titik sistem promosi bersentuhan dengan subyektifitas manusia. Lakukan pendekatan yang baik terhadap pengelolanya. Pendekatan bukan berarti menyuap. Hubungan yang baik seringkali lebih efektif. Selain ada kedekatan emosional, juga sebagai sarana bagi yang bersangkutan mengenal potensi anda secara lebih baik.
  2. Bersedia menjual diri selagi memang punya prestasi. Cuma kerja terus tanpa peduli apakah atasan tahu atau tidak adalah perbuatan paling bodoh di jaman ini. Begitu kata teman saya dan saya pikir banyak benarnya.

Jangan ragu melaksanakan jurus ”2 plus 2” ini. Semakin ragu maka akan semakin jauh Anda dari lingkaran promosi. Percayalah ! Dan waspadalah (ada yang pake ilmu katak) !

Catatan : artikel ini tulisan lama saya di suatu blog, diangkat kembali untuk anda yang berstatus pekerja (karyawan).