Blog Bisnis Dan Pekerja

Transformasi Mental Perilaku Usaha

Istilah aji mumpung umumnya berkonotasi negatif. Coba saja perhatikan bila ada pejabat yang dikatakan menerapkan aji mumpung. Pastilah condong ke pengertian penyalahgunaan kewenangan untuk kepentingan pribadi. Begitu juga perilaku orang yang berbuat sewenang-wenang ketika berkuasa juga dikatakan menggunakan aji mumpung. Mumpung berkuasa.

Bagaimana aji mumpung dalam bisnis ? Apakah sama negatifnya ?

Untuk menjawabnya mari kita berandai-andai. Andaikan mendadak saja karena sesuatu hal bisnis anda mendapat peluang untuk dikembangkan sangat besar jauh melampaui kondisinya kini. Jika sebelumnya bisnis anda cukup dijalankan bersama istri atau seorang teman misalnya, nantinya harus ditangani ratusan pekerja. Otomatis modal yang saat ini cuma mengandalkan dana sendiri juga harus ditingkatkan berlipat ganda.

Anda tidak tahu apakah kondisi ini akan berlangsung seterusnya atau hanya beberapa tahun saja. Kira-kira apa yang akan anda lakukan ? Apakah menangkap seluruh peluang menggunakan aji mumpung ? Atau anda hanya akan meningkatkan sebatas kemampuan yang ada saja sambil pelan-pelan ditingkatkan sedikit demi sedikit ? continue reading…

Dari judulnya sudah jelas, artikel Fun Works ini berbicara tentang pekerja. Mengapa menggunakan kata Fun Works segala, nanti akan jelas setelah anda membacanya. Enggak usah terlalu serius membacanya, yang fun aja. Namanya juga Fun Works gitu loh..!

Kalau selama ini banyak diulas tentang mindset pebisnis, sekarang saya ingin menulis tentang mindset pekerja. Pekerja dalam arti luas, bisa pekerja kantoran di instansi atau perusahaan, bisa juga pekerja mandiri dan pekerja rumahan. Yang diulas juga bukan hal yang berat-berat, tapi kesenangan dalam bekerja.

Kita sudah sering mendengar ucapan-ucapan seperti berikut ini :

“Ayo cepat kita selesaikan, setelah itu kita bersenang-senang !”
“Hei, kerja yang serius ! Jangan sambil bercanda dan bersenang-senang !”
“Jangan berharap hasilnya bagus. Lihat saja cara mereka bekerja! Terlalu banyak hura-hura dan ketidakseriusan !”

continue reading…

Salah satu pertimbangan dalam membangun suatu bisnis atau usaha, selain faktor keuntungan, menurut saya seyogyanya adalah seberapa besar nilai sosial bisnis tersebut. Seberapa mampu bisnis tersebut bisa menebarkan manfaat bagi banyak pihak. Semakin banyak pihak memperoleh manfaatnya maka semakin tinggi nilai sosial bisnis tersebut. Bagaimana bentuk bisnis yang memiliki nilai sosial tinggi tersebut ?

Bisnis padat karya merupakan salah satu contoh bisnis yang sarat dengan unsur sosial, khususnya terkait dengan pembukaan lapangan kerja bagi masyarakat. Penggunaan mesin mungkin lebih efisien dan lebih profitable, tapi itu cuma keuntungan pemilik semata. Merelakan sebagian keuntungan tapi bisa memberikan peluang kerja bagi banyak orang saya kira lebih bernilai sosial dan tinggi nilai ibadahnya.

Begitu juga usaha-usaha produktif yang dijalankan sebuah koperasi. Ada banyak jenis koperasi dengan ciri khasnya masing-masing. Kesamaannya adalah adanya anggota yang menjadi pemilik bisnis yang dijalankan. Koperasi yang sukses menjalankan bisnisnya akan memberikan manfaat kepada cukup banyak orang yang menjadi anggotanya. continue reading…

Mumpung udara masih beraroma keong racun, saya tulis artikel ini. Komentar dua kawan saya tentang Shinta dan Jojo beberapa hari lalu di telepon, memberi inspirasi kepada saya untuk menulis artikel tentang pekerja, yang sudah lama tidak saya lakukan. Lho, apa hubungannya dengan pekerja ? Pekerja budidaya keong racun mungkin ? Enggak lah ! Begini ceritanya.

Indri, kawan saya yang masih muda usia, saat ngobrol di telepon sinis mengatakan bahwa tampil dan membuat klip begituan mah gampang, dia juga bisa. Saya tanya, udah membuat berapa banyak ? “Ah, males ! Enggak seru ! Kurang menantang !”, begitu jawabnya. Artinya, dia belum membuat satupun.

Kawan saya satunya, lain lagi bicaranya. Dia mengatakan bahwa putri-putrinya sering melakukan itu di webcam laptopnya. Malah lebih lucu-lucu. Ketika saya tanya, pernah dipublikasikan enggak ? ke Youtube misalnya ? Wah, belum pernah ! Cuma nongkrong di laptop aja buat konsumsi keluarga. continue reading…

Saya tuh paling nggak pede kalau mau menulis tentang bisnis online. Karena sangat sedikit yang saya ketahui tentang hal tersebut. Namun heboh video klip keong racun menggelitik saya untuk sedikit beropini memanfaatkan pengetahuan saya yang sangat sedikit tersebut, barangkali saja ada manfaatnya. Jadi kalau ada yang kurang tepat silakan langsung dikoreksi via komentar.

Apa yang saya tangkap di bisnis online selama ini bagi saya belum sesuatu yang menarik minat. Setidaknya jika dibandingkan dengan bisnis konvensional. Mengapa ? Jika sasaran pasarnya hanya para pengakses internet saya kira itu belum pasar yang besar. Belum lagi bila difilter lagi dengan yang percaya dengan transaksi online, makin sedikit lagi. Karena yang terakhir ini biasanya sudah intens berkecimpung di dunia online. Seperti para blogger misalnya.

Kalau pun ditambah dengan makin maraknya media sosial online, saya masih belum melihat sebagai pasar yang menarik. Memang benar pendapat seorang kawan yang mengatakan, bahwa meskipun secara kuantitas masih kecil ukuran pasarnya tapi daya belinya besar. Tapi pemain bisnis online, para IM yang hebat-hebat juga enggak sedikit, yang notabene sudah lama malang melintang di dunia online (minder mod on). continue reading…